manfaat sastra
sastra? Pertanyaan-pertanyaan diatas wajar saja untuk dilontarkan oleh siapa saja, bahkan oleh seorang sastrawan.
Melalui sastra, dalam hal ini membaca karya sastra, ada beberapa hal yang dapat kita ambil manfaatnya: 1) menambah pengetahuan, pengalaman dan wawasan tentang hidup dan kehidupan, 2) mengembangkan nilai-nilai estetika atau keindahan, 3) mengekspresikan nilai-nilai sejarah, politik, seni dan budaya, 4) menumbuhkan minat membaca, 5) mengembangkan fikiran logika dan perasaan, 6) mengasah intelektualitas, emosional dan spiritual, 7) memperluas cakrawala. Inti dari ketujuh pernyataan diatas ialah: “Sastra tidak berfungsi mencatat kehidupan sehari-hari, akan tetapi sastra lebih dari itu. Ia dapat menafsirkan kehidupan itu sendiri, memberi arti kehidupan agar tetap berharga dan bermartabat.”
Khususnya di Indonesia, orang-orang sebenarnya menghargai keberadaan sastra dan sastrawan. Namun, penterjemahan kata menghargai perlu diperhatikan lebih lanjut. Menghargai di sini dalam artian hanya sekedar memandang sastra ‘sesuatu yang perlu’, namun tidak mendapat perhatian signifikan. Ini disebabkan oleh perilaku konsumtif dan sifat materialistik. Semua dinilai dengan uang. Menganggap sastra sama sekali tidak memberi keuntungan finansial bagi mereka. Namun, jangan salah sangka dulu sastra tidak memberi penghasilan materil. Sutan Takdir Alisjahbana membeli tapak tanah untuk membangun perguruan tinggi (sekarang Universitas Nasional) dari honor penjualan novelnya Layar Terkembang. Dan sekarang banyak pula penulis sastra (sastrawan) yang buku-bukunya laris dijual di pasaran. Bukankah dengan itu ia mendapat penghasilan yang tidak sedikit?
Sejak dahulu, di istana-istana kerajaan sudah mengenal yang namanya sastra. Dijadikan sebagai ungkapan-ungakapan dalam menyampaikan sesuatu. Dengan bersastra ungkapan yang disampaikan terdengar lebih halus dan lembut. Raja Ali Haji (1809-1870), sebagai seorang penyair istana telah berhasil mengembangkan sastra jenis gurindam, yang didalamnya mengandung nilai ajaran dalam kehidupan. “Dengan Ibu hendaklah hormat/ supaya badan dapat selamat”. Ini salah satu isi dari Gurindam Dua Belas, karya Raja Ali Haji yang dibuat tahun 1846. Yang intinya menyuruh agar kita hormat dan taat pada orangtua, agar hidup yang kita lalui mendapat ridha dan selamat dunia-akhirat. Begitu pula dengan isi gurindam dan puisi lama lainnya, yaitu memberikan semacam ‘pedoman’ dalam menjalani kehidupan. Sampai sekarang karya ini abadi dan dibaca siswa se-Indonesia. Setiap tahun soal gurindam tak pernah absen dari Ujian Nasional.
Siswa (Kita) Buta Sastra
Saat ini dapat dikatakan pengetahuan siswa Indonesia terhadap sastra saat ini hampir mencapai titik zero. Yaitu dimana siswa tidak lagi mengenal yang namanya karya sastra. Nol bacaan sastra! Tidak lagi paham arti sebuah karya sastra (buku) untuk dibaca. Ini semua di sebabkan kurangnya minat baca siswa. Kurikulum pun tak berisikan penumbuhan minat baca yang serius. Terlebih ibu dan bapak guru pun demikian. Sepertinya guru-guru kita se-Indonesia telah tercemari oleh virus materalistik. Bukan vitamin dan mineral ilmu pengatahuan. Akibatnya saat ini, ya itu siswa jadi rabun membaca, dan otomatis lumpuh dalam menulis. Penyair Taufiq Ismail menuliskan dalam puisinya Pelajaran Tatabahasa dan Mengarang (1997):
“Wahai Pak Guru, jangan kami disalahkan apalagi dicerca
Bila kami tak mampu mengembangkan kosa kata
Selama ini kami ‘kan diajar menghafal dan menghafal saja
Mana ada dididik mengembangkan logika
Mana ada diajar berargumentasi dengan pendapat berbeda
Dan mengenai masalah membaca buku dan karya sastra
Pak Guru sudah tahu lama sekali
Mata kami rabun novel, rabun cerpen, rabun drama, rabun puisi
Tap mata kami ‘kan nyalang bila menonton televisi”
Pengalaman saya membaca karya sastra memukau dan menginspirasi saya untuk rajin membaca dan menulis. Novel-novel yang mengandung nilai inspiratif, juga berguna untuk para siswa saat ini. Misalnya saja, novel karya Andrea Hirata. Saya membaca dengan tekun dan sabar halaman demi halaman novel-novel Andrea Hirata yang berserum kebangkitan untuk anak-anak Indonesia untuk berilmu tinggi. Serius menekuni bidang masing-masing. Dan istimewanya novel-novel Andrea menampilkan tokoh anak-anak miskin. Pak Balia, guru sastra yang diceritakan Andrea sebagai seorang guru yang berkarakter ‘guru’ sesungguhnya. Bukan hanya sekedar mengajar, tapi memotivasi. Yang menurut saya itulah hakikat seorang guru yang sejati. Kisah-kisah yang terkandung didalam novel diatas memberi kita dorongan atau motivasi untuk berbuat lebih. Mengobarkan semangat kita untuk bisa hidup lebih bernilai dan berharkat lebih.
Sekarang ini tujuan guru-guru bahasa dan sastra jelas, yaitu mengenalkan siswa dengan sastra. Jangan lagi para siswa hanya diajarkan tata bahasa saja. Akan tetapi, siswa benar-benar bersentuhan langsung dengan sastra, bukan hanya mengenal ‘kulitnya’ saja.
Melengkapi Peradaban
Seiring bergulirnya putaran tahun, gaung sastra terdengar seperti pasang-surut. Ibarat sebuah roda, kadang diposisi atas, tak jarang pula dibawah. Ditengah situasi ini perlu dilakukan terobosan-terobosan yang dapat menyelamatkan sastra. Kita jadikan sastra sebagai darah daging dan oksigen dalam kehidupan, mengisi ruang hampa dalam diri kita.
Sekitar setahun lalu, Radhar Panca Dahana hadir dalam sebuah acara “Menolak Korupsi” di sebuah tv swasta. Budayawan Nasioanal ini membacakan sebuah puisinya yang bertema kondisi bangsa kita saat ini. Hebatnya, puisi yang dibacakannya langsung mengusik jiwa kita. Dimana para koruptor bisa petentengan dan senyum-riang dinegara ini. Bisa masuk sel tahanan mewah seperti hotel bintang lima. Mondar-mandir saudara koruptor dengan mobil Ferrari menjenguknya. Lalu rakyatnya, yaitu kita makan nasi kualitas ‘mutakhir’. Mau membeli setabung gas harus antri berhari-hari. Miris!
Ada lagi sebuah puisi yang ditulis oleh penyair asal Sidoarjo, Dona Anovita yang menyinggung halus sekaligus menggelitik kita. Huss,…/ jangan bicara sembarangan/ mana ada orang bercita-cita jadi koruptor/ mana ada orangtua yang rela anaknya cari uang dijalan kotor.
Nah, inilah hebatnya sastrawan. Lewat dari sudut pandang kritis ia mengolah kata-kata menjadi sindiran halus. Kritis, tapi tidak menggores. Penyair Taufiq Ismail, di buku puisi “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” (1998) dan buku puisi terbarunya “Debu di Atas Debu” (2014) juga selalu membuat puisinya dengan pemilihan kata halus dan tentunya tidak menggores.
Ironisnya yang terjadi sekarang ini sastra kurang diperhatikan. Dibiarkan sekarat dan tidak diprioritaskan untuk bertahan hidup. Padahal sastra, sebagai produk budaya termasuk sebagai pelengkap peradaban. Ya, kurang lengkap rasanya peradaban tanpa kehadiran sastra. Walaupun ditengah gegap gempita industri dan pembangunan, kita harus tetap berupaya menghadirkan sastra dikehidupan. Kemegahan sastra harus memberi arti penting bagi lingkup sosial dan budaya yang lebih luas. Kehebatannya tak cukup menyala-nyala dalam ruang yang terbatas, melainkan harus memancar ke ruang tak terbatas. Semua itu akan mengantarkan kita pada pentingnya memperhatikan kegairahan dan kebangkitan sastra di Indonesia.
Muhammad Husein Heikal, lahir di Medan, 11 Januari 1997. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara. Karyanya termuat Horison, Analisa, Waspada, Riau Pos,
Melalui sastra, dalam hal ini membaca karya sastra, ada beberapa hal yang dapat kita ambil manfaatnya: 1) menambah pengetahuan, pengalaman dan wawasan tentang hidup dan kehidupan, 2) mengembangkan nilai-nilai estetika atau keindahan, 3) mengekspresikan nilai-nilai sejarah, politik, seni dan budaya, 4) menumbuhkan minat membaca, 5) mengembangkan fikiran logika dan perasaan, 6) mengasah intelektualitas, emosional dan spiritual, 7) memperluas cakrawala. Inti dari ketujuh pernyataan diatas ialah: “Sastra tidak berfungsi mencatat kehidupan sehari-hari, akan tetapi sastra lebih dari itu. Ia dapat menafsirkan kehidupan itu sendiri, memberi arti kehidupan agar tetap berharga dan bermartabat.”
Khususnya di Indonesia, orang-orang sebenarnya menghargai keberadaan sastra dan sastrawan. Namun, penterjemahan kata menghargai perlu diperhatikan lebih lanjut. Menghargai di sini dalam artian hanya sekedar memandang sastra ‘sesuatu yang perlu’, namun tidak mendapat perhatian signifikan. Ini disebabkan oleh perilaku konsumtif dan sifat materialistik. Semua dinilai dengan uang. Menganggap sastra sama sekali tidak memberi keuntungan finansial bagi mereka. Namun, jangan salah sangka dulu sastra tidak memberi penghasilan materil. Sutan Takdir Alisjahbana membeli tapak tanah untuk membangun perguruan tinggi (sekarang Universitas Nasional) dari honor penjualan novelnya Layar Terkembang. Dan sekarang banyak pula penulis sastra (sastrawan) yang buku-bukunya laris dijual di pasaran. Bukankah dengan itu ia mendapat penghasilan yang tidak sedikit?
Sejak dahulu, di istana-istana kerajaan sudah mengenal yang namanya sastra. Dijadikan sebagai ungkapan-ungakapan dalam menyampaikan sesuatu. Dengan bersastra ungkapan yang disampaikan terdengar lebih halus dan lembut. Raja Ali Haji (1809-1870), sebagai seorang penyair istana telah berhasil mengembangkan sastra jenis gurindam, yang didalamnya mengandung nilai ajaran dalam kehidupan. “Dengan Ibu hendaklah hormat/ supaya badan dapat selamat”. Ini salah satu isi dari Gurindam Dua Belas, karya Raja Ali Haji yang dibuat tahun 1846. Yang intinya menyuruh agar kita hormat dan taat pada orangtua, agar hidup yang kita lalui mendapat ridha dan selamat dunia-akhirat. Begitu pula dengan isi gurindam dan puisi lama lainnya, yaitu memberikan semacam ‘pedoman’ dalam menjalani kehidupan. Sampai sekarang karya ini abadi dan dibaca siswa se-Indonesia. Setiap tahun soal gurindam tak pernah absen dari Ujian Nasional.
Saat ini dapat dikatakan pengetahuan siswa Indonesia terhadap sastra saat ini hampir mencapai titik zero. Yaitu dimana siswa tidak lagi mengenal yang namanya karya sastra. Nol bacaan sastra! Tidak lagi paham arti sebuah karya sastra (buku) untuk dibaca. Ini semua di sebabkan kurangnya minat baca siswa. Kurikulum pun tak berisikan penumbuhan minat baca yang serius. Terlebih ibu dan bapak guru pun demikian. Sepertinya guru-guru kita se-Indonesia telah tercemari oleh virus materalistik. Bukan vitamin dan mineral ilmu pengatahuan. Akibatnya saat ini, ya itu siswa jadi rabun membaca, dan otomatis lumpuh dalam menulis. Penyair Taufiq Ismail menuliskan dalam puisinya Pelajaran Tatabahasa dan Mengarang (1997):
“Wahai Pak Guru, jangan kami disalahkan apalagi dicerca
Bila kami tak mampu mengembangkan kosa kata
Selama ini kami ‘kan diajar menghafal dan menghafal saja
Mana ada dididik mengembangkan logika
Mana ada diajar berargumentasi dengan pendapat berbeda
Dan mengenai masalah membaca buku dan karya sastra
Pak Guru sudah tahu lama sekali
Mata kami rabun novel, rabun cerpen, rabun drama, rabun puisi
Tap mata kami ‘kan nyalang bila menonton televisi”
Pengalaman saya membaca karya sastra memukau dan menginspirasi saya untuk rajin membaca dan menulis. Novel-novel yang mengandung nilai inspiratif, juga berguna untuk para siswa saat ini. Misalnya saja, novel karya Andrea Hirata. Saya membaca dengan tekun dan sabar halaman demi halaman novel-novel Andrea Hirata yang berserum kebangkitan untuk anak-anak Indonesia untuk berilmu tinggi. Serius menekuni bidang masing-masing. Dan istimewanya novel-novel Andrea menampilkan tokoh anak-anak miskin. Pak Balia, guru sastra yang diceritakan Andrea sebagai seorang guru yang berkarakter ‘guru’ sesungguhnya. Bukan hanya sekedar mengajar, tapi memotivasi. Yang menurut saya itulah hakikat seorang guru yang sejati. Kisah-kisah yang terkandung didalam novel diatas memberi kita dorongan atau motivasi untuk berbuat lebih. Mengobarkan semangat kita untuk bisa hidup lebih bernilai dan berharkat lebih.
Sekarang ini tujuan guru-guru bahasa dan sastra jelas, yaitu mengenalkan siswa dengan sastra. Jangan lagi para siswa hanya diajarkan tata bahasa saja. Akan tetapi, siswa benar-benar bersentuhan langsung dengan sastra, bukan hanya mengenal ‘kulitnya’ saja.
Melengkapi Peradaban
Seiring bergulirnya putaran tahun, gaung sastra terdengar seperti pasang-surut. Ibarat sebuah roda, kadang diposisi atas, tak jarang pula dibawah. Ditengah situasi ini perlu dilakukan terobosan-terobosan yang dapat menyelamatkan sastra. Kita jadikan sastra sebagai darah daging dan oksigen dalam kehidupan, mengisi ruang hampa dalam diri kita.
Sekitar setahun lalu, Radhar Panca Dahana hadir dalam sebuah acara “Menolak Korupsi” di sebuah tv swasta. Budayawan Nasioanal ini membacakan sebuah puisinya yang bertema kondisi bangsa kita saat ini. Hebatnya, puisi yang dibacakannya langsung mengusik jiwa kita. Dimana para koruptor bisa petentengan dan senyum-riang dinegara ini. Bisa masuk sel tahanan mewah seperti hotel bintang lima. Mondar-mandir saudara koruptor dengan mobil Ferrari menjenguknya. Lalu rakyatnya, yaitu kita makan nasi kualitas ‘mutakhir’. Mau membeli setabung gas harus antri berhari-hari. Miris!
Ada lagi sebuah puisi yang ditulis oleh penyair asal Sidoarjo, Dona Anovita yang menyinggung halus sekaligus menggelitik kita. Huss,…/ jangan bicara sembarangan/ mana ada orang bercita-cita jadi koruptor/ mana ada orangtua yang rela anaknya cari uang dijalan kotor.
Nah, inilah hebatnya sastrawan. Lewat dari sudut pandang kritis ia mengolah kata-kata menjadi sindiran halus. Kritis, tapi tidak menggores. Penyair Taufiq Ismail, di buku puisi “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” (1998) dan buku puisi terbarunya “Debu di Atas Debu” (2014) juga selalu membuat puisinya dengan pemilihan kata halus dan tentunya tidak menggores.
Ironisnya yang terjadi sekarang ini sastra kurang diperhatikan. Dibiarkan sekarat dan tidak diprioritaskan untuk bertahan hidup. Padahal sastra, sebagai produk budaya termasuk sebagai pelengkap peradaban. Ya, kurang lengkap rasanya peradaban tanpa kehadiran sastra. Walaupun ditengah gegap gempita industri dan pembangunan, kita harus tetap berupaya menghadirkan sastra dikehidupan. Kemegahan sastra harus memberi arti penting bagi lingkup sosial dan budaya yang lebih luas. Kehebatannya tak cukup menyala-nyala dalam ruang yang terbatas, melainkan harus memancar ke ruang tak terbatas. Semua itu akan mengantarkan kita pada pentingnya memperhatikan kegairahan dan kebangkitan sastra di Indonesia.
Muhammad Husein Heikal, lahir di Medan, 11 Januari 1997. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara. Karyanya termuat Horison, Analisa, Waspada, Riau Pos,
Komentar
Posting Komentar